Selasa, 01 Maret 2011

LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI EKSPERIMEN

LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI EKSPERIMEN

Nama Eksperimenter    :
Nama Subjek                 :
Jenis Kelamin                :
Umur                              :
Pendidikan                     : Mahasiswa
Nama Eksperimen         : Memori
Nomor Eksperimen       : 01 / Eks
Tanggal Eksperimen      :
Waktu Eksperimen        :
Tempat Eksperimen      :


I. PERMASALAHAN
Apakah daya ingat seseorang dipengaruhi oleh jenis materi yang harus diingatnya? Apakah urutan penyajian stimulus mempengaruhi materi yang diingat?

II. DASAR TEORI
Memori diartikan sebagai proses yang memungkinkan kita untuk melakukan perekaman (encode), penyimpanan (store), dan pada akhirnya menggunakan atau mengeluarkan kembali pengalaman dan informasi (retrieval). Dalam proses berpikir, memori memiliki tiga komponen yaitu sensory register, yang mendeteksi dan dengan segera menahan (menyimpan) informasi. Working memory (short-term memory), memproses informasi tertentu yang diterima dari sensory register dan informasi yang dikeluarkan kembali dari long-term memory atau memori yang menyimpan secara sementara waktu dan dalam jumlah yang terbatas dari informasi. dan long-term memory yang berfungsi sebagai penyimpan informasi dalam jangan wakru yang lama (Passer,M.W., & Smith, R.E., 2004).
Long-term Memory berfungsi sebagai penyaring (filter), yaitu dalam bentuk memori semantik (semantic memory) dan memori episodik (episodic memory). memori semantik diartikan sebagai ingatan tentang konsep-konseo yang digunakan untuk mendefinisaikan sesuatu. Sementara memori episodik adalah ingatan-ingatan seseorang terhadap masa lampaunya. Dua memori ini bekerja sama menyaring dan memilih informasi hingga akhirnya suatu informasi dapat dimaknai. Pemahaman tentang berbagai jenis memori ini kemudian digunakan untuk menggambarkan struktur kognisi atau struktur pengetahuan manusia (Passer,M.W., & Smith, R.E., 2004).
Studi tentang memori juga menjelaskan tentang dua macam memori dalam menjelaskan ingatan, yaitu memori eksplisit (ingatan sadar) dan memori implisit (ingatan tak sadar). Memori implisit dikenal sebagai memori mengubah atau memberi makna suatu atribut dengan cepat pada kondisi yang tidak membutuhkan pengumpulan informasi secara sadar, atau merespon suatu hal dengan cepat. Untuk memahami memori implisit bisa digunakan tes melengkapi kata. Misal ada kata “KUR”, ketika mendengar kata “KUR”, secara tak sadar kita akan mengingat benda yang memakai kata “KUR”, misalnya “KURSI”. Memori eksplisit adalah memori yang digunakan secara sadar, misalnya mengumpulkan fakta-fakta tertentu, persepsi, dan tentang bahasa (Wilson, R.A., & Keith, F.C. 1999).
Retrieval adalah salah satu proses yang terjadi saat berpikir yaitu pada proses recall. retrieval adalah mengeluarkan kembali informasi yang tersimpan untuk nantinya digunakan kembali dan mengalami proses pengolahan data terlebih dahulu, sehingga afeksi bisa mempengaruhi informasi yang dikeluarkan. Peta kognitif suatu informasi yang tersimpan dalam memori bisa beragam jumlahnya. Fungsinya akan tampak ketika seseorang melakukan retrieval, dimana peta kognitif berperan untuk memudahkan proses retrieval lebih cepat (Ingwersen, P. 1992).
Ada dua pandangan umum untuk memahami proses informasi (information processing). Yang pertama adalah pandangan klasik yang menyatakan bahwa proses informasi mirip dengan komputer (human-machine). Manusia adalah prosesor dari informasi yang masuk. Yang kedua adalah pandangan konstruktivis. Yang menjelaskan bahwa pikiran manusia adalah suatu daerah penyusun suatu konstruksi yang diperoleh dari proses belajar dan keaktifan menciptakan pemahaman pribadi berdasarkan integrasi apa yang disaksikan dan apa yang telah diketahui (Reynolds, M.W., Miller, G.E., & Weiner, I.B., 2003).
Peran utama dalam teori proses informasi adalah mengenalkan analisis tugas kognitif (cognitive task analysis). Yaitu teknik untuk mendeskripsikan proses kognitif yang dilakukan seseorang untuk menyelesaikan suatu tugas kognitif. Berdasarkan analisis tugas kognitif, ada 5 tahapan dalam memproses suatu permasalahan (Mayer, 19987; Sternberg, 1997): 1. Encoding. Yaitu membaca dan membentuk representasi mental kata-kata dan memberi petunjuk tanda baca. 2. inferring. Yaitu menentukan hubungan antara dua istilah atau makna yang berhubungan. 3. Mapping. Yaitu menentukan istilah atau makna yang ketiga dan bagaimana istilah itu berhubungan dengan istilah pertama. 4. Appliying. Melakukan generalisasi terhadap istilah keepat berdasarkan hubungan yang idbentuk pleh istilah ketiga. 5. Responding. Yaitu melakukan respon dari hasil tahap-tahap sebelumnya secara fisik, misal menuliskannya (Reynolds, M.W., Miller, G.E., & Weiner, I.B., 2003).


III. HIPOTESIS
a.    Jika seseorang diberi stimulus yang jenisnya berbeda (berupa pasangan kata tidak bermakna, pasangan kata bermakna namun tidak saling berhubungan, pasangan kata bermakna saling berhubungan), maka daya ingat akan berbeda.
b.    Jika seseorang diberi stimulus berupa sejumlah pasangan kata-kata, maka pasangan kata-kata yang dapat diingat subjek dipengaruhi oleh urutan penyajiannya.




IV. VARIABEL INDEPENDEN
a.    Jenis pasangan kata yang menjadi stimulus, yaitu pasangan kata tidak bermakna, pasangan kata bermakna tidak saling berhubungan, dan pasangan kata bermakna saling berhubungan.
b.    Urutan penyajian stimulus, yaitu urutan awal (1-3), urutan tengah (4-7), dan urutan akhir (8-10).

V. VARIABEL DEPENDEN
Daya ingat, yang ditunjukkan melalui persentasi menjawab dengan benar pasangan kata yang mampu diingat.

VI. ALAT DAN BAHAN
A.    Daftar pasangan kata sebagai stimulus
Jenis A: Pasangan kata-kata tidak bermakna
per – sep                           sit – pun
sat – mal                           ram – sur
kim – pot                           kar – rab
bas – rab                           tum – kor
kes – dar                           mid – rus

Jenis B: Pasangan kata-kata bermakna tidak saling berhubungan
mulai – ayah                     beli – tidur
pisau – surat                      kakak – tanah
asing – niat                        siap – watak
gemar – maksud               sore – negara
pohon – makan                 maksud – bangsa
Jenis C: Pasangan kata-kata bermakna saling berhubungan
surat – pos                        mencuri – polisi
musuh – racun                  buku – sekolah
nakal – hukuman              air – mancur
ujian – lulus                       belajar – pandai
bapak – ibu                       meja – kursi


B.    Lembar jawaban dan alat tulis
C.   Jam
VII. RANCANGAN EKSPERIMEN
Rancangan tiga kelompok dengan Random Assignment

R
K1
X1
Y
K2
X2
Y
K3
X3
Y


X1     :  Perlakuan dengan jenis stimulus berupa pasangan kata tidak bermakna
X2     : Perlakuan dengan jenis stimulus berupa pasangan kata bermakna yang tidak saling berhubungan
X3     : Perlakuan dengan jenis stimulus berupa pasangan kata bermakna saling berhubungan
Y       : Observasi, daya ingat
R      : Random Assignment
VIII. PROSEDUR PELAKSANAAN
  1. Subjek duduk pada kursi yang telah disediakan, berhadapan dengan eksperimenter.
  2. Eksperimenter melakukam pendekatan kepada subjek sehingga suasana tidak kaku dan menegangkan.
  3. Eksperimenter membacakan petunjuk untuk mengerjakan tes memori dengan instruksi sebagai berikut :
”Saya akan membacakan 10 pasangan kata-kata. Pembacaan akan dilakukan 5 kali. Tugas anda adalah mendengarkannya dengan seksama dan berusaha mengingat-ingatnya. Anda akan ditanya tentang pasangan kata-kata tersebut”.
Daftar pasangan kata-kata dibacakan dengan nada yang mendekati sama, dengan cara: jarak pembacaan antara pasangan kata-kata adalah 2 detik, dan jarak antara setiap ulangan adalah 15 detik.
  1. Setelah diulang 5 kali, subjek diberi kesempatan untuk beristirahat selama 15 menit, dan selama itu pula subjek diajak bercakap-cakap sehingga tidak ada kesempatan bagi subjek untuk mengingat-ingat materi yang telah diberikan.
  2. Subjek diminta duduk kembali berhadapan dengan eksperimenter, dan eksperimenter membacakan instruksi berikut:
”Sekarang saya akan mebacakan pada anda satu kata, dan tugas anda adalah mengatakan pasangannya”. Apabila subjek menjawab benar, maka eksperimenter langsung meneruskan dengan pertanyaan berikutnya. Namun apabila jawaban subjek salah, maka tunggulah kira-kira 4 detik untuk memberi kesempatan mengoreksi jawaban sebelumnya.
IX. PENCATATAN HASIL
Data kelompok, untuk analisa statistik:

No
Subjek
Memory
(% jawaban benar)
Memori sesuai urutan penyajian
A
B
C
A
B
C
1-3
4-7
8-10
1-3
4-7
8-10
1-3
4-7
8-10
1.
TOPIK
3
4
8
2
1
0
2
2
0
2
4
2
2.
HENDRI
1
9
9
1
0
0
3
3
3
3
4
2
3.
RIO
2
8
10
2
0
0
3
2
3
3
4
3
4.
YOKI
2
6
7
2
0
0
2
2
2
2
3
2
5.
KASRUL
5
9
10
3
1
1
3
3
3
3
4
3

Keterangan:
A          : Pasangan kata tidak bermakna
B          : Pasangan kata bermakna namun tidak saling berhubungan
C         : Pasangan kata bermakna yang saling berhubungan
1 - 3     : Urutan Awal
4 - 7     : Urutan Tengah
8 – 10  : Urutan Akhir







X. PENGOLAHAN HASIL
A : B

A : B



t-Test: Paired Two Sample for Means





Variable 1
Variable 2

Mean
2.6
7.2

Variance
2.3
4.7

Observations
5
5

Pearson Correlation
0.030415


Hypothesized Mean Difference
0


Df
4


t Stat
-3.94447


P(T<=t) one-tail
0.008448


t Critical one-tail
2.131847


P(T<=t) two-tail
0.016896


t Critical two-tail
2.776445








Kesimpulan :
t hitung < t tabel
t Stat < t Critical one-tail
jadi hasilnya signifikan

A : C

A : C







t-Test: Paired Two Sample for Means





Variable 1
Variable 2

Mean
2.6
8.8

Variance
2.3
1.7

Observations
5
5

Pearson Correlation
0.328719


Hypothesized Mean Difference
0


Df
4


t Stat
-8.43713


P(T<=t) one-tail
0.00054


t Critical one-tail
2.131847


P(T<=t) two-tail
0.001081


t Critical two-tail
2.776445








Kesimpulan :
t hitung > t tabel
t Stat > t Critical one-tail
jadi hasilnya sangat signifikan

B : C

B : C







t-Test: Paired Two Sample for Means





Variable 1
Variable 2

Mean
7.2
8.8

Variance
4.7
1.7

Observations
5
5

Pearson Correlation
0.725238


Hypothesized Mean Difference
0


Df
4


t Stat
-2.35907


P(T<=t) one-tail
0.038871


t Critical one-tail
2.131847


P(T<=t) two-tail
0.077742


t Critical two-tail
2.776445




Kesimpulan :
t hitung > t tabel
t Stat > t Critical one-tail
jadi hasilnya signifikan

XI. KESIMPULAN
    1. Jika stimulus yang jenisnya berbeda berupa pasangan kata tidak bermakna, bermakna tidak berhubungan, bermakna saling berhubungan, maka daya ingatnya akan berbeda dengan sangat signifikan. Hipotesis diterima.
a.    Jika seseorang diberi stimulus berupa pasangan kata tidak bermakna dan pasangan kata bermakna tidak berhubungan, maka ada perbedaan daya ingat yang signifikan. Hipotesis diterima.
b.    Jika seseorang diberi stimulus berupa pasangan kata tidak bermakna dan pasangan kata bermakna saling berhubungan, maka terdapat perbedaan daya ingat yang sangat signifikan. Hipotesis diterima.
c.    Jika seseorang diberi stimulus berupa pasangan kata bermakna tidak berhubungan dan pasangan kata bermakna saling berhubungan, maka tidak terdapat perbedaan daya ingat yang signifikan. Hipotesis ditolak.
    1. Jika seseorang diberi stimulus berupa sejumlah pasangan kata-kata, maka pasangan kata-kata yang dapat diingat dipengaruhi oleh urutan penyajian. Hipotesis diterima.
a.    Jika seseorang diberi stimulus berupa sejumlah pasangan kata-kata, maka urutan penyajian awal dan tengah tidak mempengaruhi pasangan kata-kata yang dapat diingat. Hipotesis diterima.
b.    Jika seseorang diberi stimulus berupa sejumlah pasangan kata-kata, maka urutan penyajian awal dan akhir tidak mempengaruhi pasangan kata-kata yang dapat diingat. Hipotesis diterima.
c.    Jika seseorang diberi stimulus berupa sejumlah pasangan kata-kata, maka urutan penyajian tengah dan akhir secara sangat signifikan mempengaruhi pasangan kata-kata yang dapat diingat. Hipotesis diterima.

XII. DISKUSI
Dalam dasar teori disebutkan bahwa memori merupakan keseluruhan pengalaman masa lalu yang dapat diingat kembali. Pada eksperimen ini, dapat dilihat bahwa subjek diberikan pasangan kata-kata yang tidak bermakna, pasangan kata bermakna namun tidak saling berhubungan, pasangan kata bermakna saling berhubungan. Kata kata tersebut diberikan untuk diingat kembali setelah 15 menit, tanpa adanya kesempatan untuk mengulang-ulang dalam mengingat.
Pada perlakuan B dan C seharusnya ada perbedaan yang signifikan, tetapi karena suasana laboratorium yang tidak mendukung, sehingga tidak mungkin untuk melaksanakan eksperimen sesuai dengan kondisi yang seharusnya, yakni subjek seharusnya berada terpisah dari rekan-rekan yang lain dan berada dalam ruangan tertutup yang letaknya terpisah.

XIII. KESAN-KESAN DALAM EKSPERIMEN
  1. Fisik     : Kondisi ruangan cukup nyaman pada saat pelaksanaan eksperimen, namun jumlah mahasiswa yang terlibat dalam eksperimen cukup banyak dan menimbulkan sedikit suasana bising pada pelaksanaan eksperimen. Selain itu jumlah eksperimen yang akan diujikan cukup banyak membuat waktu pengerjaan satu eksperimen harus dipotong. Ruangan yang tidak ber AC membuat suasana sedikit panas karna pelaksanaan eksperimen dilakukan menjelang siang hari. Asisten eksperimen juga membantu jalannya eksperimen dengan menjadi tempat bertanya dan menunjukkan beberapa cara kerja alat tes.
  2. PsikologIs        : Subyek yang terburu-buru dalam mengerjakan eksperimen membuat jalannya eksperimen sedikit berbeda dari yang diharapkan. Subyek tidak menyelesaikan eksperimen hingga batas waktu yang ditentukan.
C. Asisten              : Cara penyampaian kurang bisa dimengerti.
XIV. KEGUNAAN SEHARI-HARI
            Kegunaan memory dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan kesan-kesan.


                        Asisten :


                  Tirtha Paradisa
                   ..........................
Pekanbaru, 1 Mei 2010
Penyusun,

Novita Evi Arini
.........................




DAFTAR PUSTAKA

Etsem, M B. 2001. Petunjuk Praktikum Psikologi Eksperimen. Yogyakarta : Laboratorium Psikologi Eksperimen Fakultas Psikologi UGM.
Etsem, M B. Walgito, B., Sugiyanto., dan Priyosulistyo. (2008). Sarana navigasi kognitif sebagau upaya peningkatan kemudahan evakuasi pada bangunan mal/ fasilitas umum. Jurnal Psikologi Fakultas Psikologi UGM. 35.(01).41-61
Helversen, B.V., & Rieskamp, J. 2008. The mapping models: a cognitive thoery of quantitative estimation. Journal of Experimental Psychology : General. 137. (1). 73-96
Ingwersen, P.1992. Information Retrieval Interaction. London : Taylor Graham
Passer, M.W., & Smith, R.E., 2004. Psychology : The Science of Mind and Behavioral. California: Mc Graw Hill
Weiner, I.B., Reynolds, M.W., & Miller, G.E., Handbook of Psychology, Volume 7. Educational Psychology. New Jersey : John Wiley & Sons.inc.
Wilson, R.A., & Keil, E.C. 1999. The MIT Encyclopedia of The Cognitive Science. London : The MIT Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar